Cari Blog Ini

Senjata Ini Jadi Bukti Kekuatan Kerajaan Majapahit Memang Disegani Dunia

Selama ini mungkin kita memang tahu nenek moyang kita memang pelaut handal, namun apakah anda juga tahu bahwa nenek moyang kita ternyata adalah pelaut yang memiliki tekhnologi tinggi, khususnya di bidang persenjataan?

Sebuah fakta mengejutkan telah ditemukan dari temuan sebuah meriam kuno di Australia. Memiliki bentuk kecil dan juga praktis, sepintas mungkin kita akan menyangka senjata ini adalah milik bangsa Eropa, yang memang pada era itu banyak melakukan penjelajahan mencari dunia baru.

Namun hasil penelitian ternyata menunjukkan bahwa meriam tersebut berasal dari Nusantara, dan lebih spesifiknya adalah Kerajaan Majapahit. Dikenal dengan nama Cetbang, desain senjata ini membuat geleng-geleng para peneliti dari Amerika dan Eropa. Ternyata meriam berukuran kecil ini memiliki banyak keunggulan dibanding  senjata serupa milik bangsa Eropa yang selama ini dinilai lebih unggul.

Keunggulan pertama Cetbang terletak pada bahannya, tidak seperti meriam eropa yang terbuat dari besi cor dan membuatnya jadi mudah berkarat, meriam yang konon dirancang oleh Mpu Nala dan Patih Gadjah Mada ini terbuat dari perunggu sehingga anti karat dan tahan lama.

Keunggulan berikutnya, terletak pada ruang dan tabung pelurunya. Tabung peluru Cetbang dimasukkan dari bagian belakang meriam, dan dipicu dengan hentakan  atau picu sumbu api, bukan disulut. Sangat berbeda dari meriam eropa yang bola peluru dimasukkan dari belakang dan masih disulut dengan bara api. Desain ini membuat Cetbang menjadi tahan terhadap cuaca. Meskipun hujan badai, meriam asli Indonesia ini masih bisa digunakan dengan baik. Bahkan dinilai model ini menjadi inspirasi bagi pembuatan Bazooka atau RPG modern saat ini.

Dilansir dari VIVA.co.id setiap kapal perang Majapahit bersenjatakan meriam Jawa yang disebut Cetbang Majapahit. Pandai besi yang mengecor meriam itu berada di Blambangan. Cetbang Majapahit adalah karya penemuan Mahapatih Gajahmada yang konon pernah diasuh tentara Mongol atau Tartar yang menyerang kerajaan Singosari dengan kekuatan 1.000 kapal.

Semua jenis kapal perang Majapahit, mulai kapal perbekalan hingga kapal bendera adalah kreasi jenius dari Mpu Nala yang sekaligus seorang laksamana laut yang andal. Nala menciptakan kapal-kapal dari sejenis kayu raksasa yang hanya tumbuh di sebuah pulau yang dirahasiakan. Pohon raksasa dan cocok untuk dibuat kapal itulah yang membuat kapal-kapal Majapahit cukup besar ukurannya di masa itu.

Setelah Majapahit lemah, hanya tersisa armada Jawa yang menguasai perairan Laut Jawa dan jalur laut menuju kepulauan rempah-rempah. Kemudian datang bangsa kulit putih yang tujuan utamanya ialah menguasai daerah penghasil rempah-rempah itu dengan modal kapal-kapal gesit dan lincah, tidak terlalu besar ukurannya dibanding kapal Majapahit.

Kapal asing itu bersenjata lebih unggul meriam yang bisa memuntahkan bola-bola besi dengan jarak tembak lebih jauh daripada kemampuan jarak tembak Cetbang Majapahit.

Meriam kecil (Cetbang) ini disebutkan dalam Prasasti Sekar (Prasasti yang ditemukan di Bojonegoro). Cetbang dibuat di Rajekwesi, Bojonegoro dengan Mesiu yang dibuat di Swatantra Biluluk (ada juga disebut dlm Prasasti Biluluk, soal Pagaraman Biluluk).

Konon disebutkan pula, bahwa senjata ini sangat ditakuti penjajah Belanda, sehingga mereka saat ini berupaya memusnahkan Cetbang yang ada, agar tidak dipakai para pejuang. Kini Cetbang hanya bisa kita temui di Museum New York Amerika Serikat dan Australia.

Inilah sebuah kebanggan dan kebesaran Bangsa kita, yang patut kita ketahui untuk jadi suri tauladan bagi kita Bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar: