Cari Blog Ini

Bandung Lautan Api – Strategi Perjuangan Mempertahankan Kedaulatan Bangsa dengan Menyisakan Puing & Debu untuk Penjajah

Kekalahan Jepang dari sekutu yang mengakibatkannya kehilangan seluruh negara jajahannya—dan akhirnya membuka kesempatan bagi Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945—tidak disambut dengan suka cita oleh Belanda

 

Bandung dibumihanguskan! 

Sekitar 200.000 jiwa dengan rela meninggalkan rumah dan harta bendanya. Berduyun-duyun menuju pegunungan dan pergi ke luar kota bukan karena takut akan ancaman, bukan pula enggan berjuang mempertahankan, apalagi tunduk terhadap perintah sekutu dan melegitimasi kekuasaannya. Kepergian ini adalah strategi. Rakyat Bandung tidak rela menyerahkan kotanya untuk dijadikan basis militer penjajah. Dengan membakar dan menyisakan debu dan puing-puing, penjajah tidak akan bisa membangun markas dan pergerakannya pun akan melambat.  Para pejuang bangsa tak perlu mati dalam konfrontasi, jumlah mereka akan tetap utuh dan bisa mengisi kantung-kantung gerilya untuk kemudian berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa hingga titik darah penghabisan.

Upaya Belanda Menguasai Kembali Indonesia sebagai Negeri Jajahannya

Kekalahan Jepang dari sekutu yang mengakibatkannya kehilangan seluruh negara jajahannya—dan akhirnya membuka kesempatan bagi Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945—tidak disambut dengan suka cita oleh Belanda.

Belanda sepertinya tidak rela akan kemerdekaan RI. Mereka terus berupaya mengganggu gugat kedaulatan Indonesia dengan menyusup masuk ke wilayah-wilayah strategis dan melakukan konfrontasi untuk merebut dan menanamkan kembali kekuasaannya di negara ini.

Bak musuh dalam selimut, Inggris yang berkedok AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atau aliansi komando sekutu yang bertugas membantu pengambilalihan kekuasan dari tangan Jepang, dengan leluasa memasuki Indonesia dan menyusupkan pasukan NICA (Netherland Indies Civil Administration) di dalamnya.

Sebut saja pertempuran di Surabaya, Ambarawa, Medan Area, Pertempuran Margana – Bali, dan kota-kota besar lainnya termasuk juga di kota Bandung – Jawa Barat.

Masuknya Sekutu ke Kota Bandung

Sekutu pertama kali memasuki kota Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945. Para pejuang yang sedang gencar melucuti senjata dan sisa-sisa kekuasaan Jepang, diinterupsi dengan kehadiran pasukan Inggris  yang menuntut agar semua senjata yang ada di tangan penduduk diserahkan kepada mereka.

Sekutu dan tawanan-tawanan perang Belanda yang telah dibebaskan pun mulai melakukan teror dan tindakan-tindakan yang mengganggu keamanan. Sontak hal tersebut menyebabkan kemarahan pemerintah dan memunculkan gejolak perlawanan di masyarakat.

21 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan di Bandung melancarkan serangan terhadap basis-basis sekutu di wilayah Bandung Utara.

Merasa terdesak, dengan dalih menjaga keamanan, pihak sekutu mengeluarkan ultimatum agar wilayah Bandung bagian utara harus segera dikosongkan selambat-lambatnya tanggal 29 November 1945. Kawasan tersebut akan dijadikan basis sekutu, sedangkan wilayah selatan menjadi daerah Republik Indonesia.

Di saat yang bersamaan dengan masa pengosongan, terjadi banjir bandang di kota Bandung akibat jebolnya tanggul sungai Cikapundung. Hal ini tentu saja semakin menyulitkan posisi rakyat Bandung. dalam kondisi yang lemah tertimpa musibah, pesawat-pesawat tempur Inggris pun menggempur Bandung, tepatnya di kawasan Lengkong Besar.

Tanggal 23 Maret 1946, ultimatum kedua dikeluarkan. Sekutu menuntut Tentara Republik Indonesia (TRI) untuk mundur sekitar 11 kilometer dari pusat kota dan segera mengosongkan seluruh kota Bandung paling lambat tanggal 24 Maret 1945 tengah malam.

Pembakaran Kota Bandung

TRI dan para pejuang  tidak rela jika sekutu dan NICA memanfaatkan dan menjadikan Bandung sebagai basis militer mereka. Akhirnya melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoeangan Priangan, Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, memutuskan dan memerintahkan untuk segera mengevakuasi seluruh penduduk Bandung dan membumihanguskan semua bangunan yang ada di kota tersebut.

Keputusan tersebut dipertanyakan oleh sejumlah petinggi Militer Indonesia karena dianggap tidak berupaya mempertahankan kota bandung hingga titik darah penghabisan.

Namun Nasution memiliki alasan yang kuat. Jumlah pasukan RI tidak seimbang dengan kekuatan militer sekutu. Nasution tidak mau mengorbankan 4 divisi yang ada. Dengan membakar kota Bandung, sekutu akan menerima puing-puing, mereka akan sulit membangun markas dan pergerakannya pun akan melambat. Di saat itu, 4 divisi yang ada masih tetap utuh dan mereka akan ditempatkan di kantung-kantung gerilya di dalam kota untuk tindakan perlawanan selanjutnya.

Walapun panik, namun rakyat Bandung mematuhi keputusan pemerintah. Pemerintah pun telah mempersiapkan sejumlah titik pengungsian dan warga kemudian mulai mengungsi dengan tujuan pinggiran kota Bandung seperti Cililin, Ciparay, Majalaya, dan Ciwidey, hingga ke kota-kota terdekat seperti Garut, Tasikmalaya, Cianjur, dan Sukabumi.

Tanggal 24 Maret 1945 pukul 21.00, Pembakaran kota pun dimulai. Diawali dari Indisch Restaurant di daerah utara alun-alun, kemudian dilanjutkan ke bangunan-bangunan penting dari wilayah timur ujung Berung, hingga ke wilayah Cimahi. Rumah-rumah penduduk pun ditinggalkan dan dibakar sehingga meninggalkan kobaran yang sangat besar bak lautan api.

Benteng Nica yang berada di kawasan Dayeuh Kolot – Bandung Selatan, menjadi salah satu sasaran utama pembakaran. Dua orang pejuang bernama Muhammad Toha & Ramdan  rela mengorbankan diri menghancurkan gudang mesiu tersebut dengan menggunakan alat peledak. Keduanya tewas dalam pertempuran tersebut dan dikenang hingga saat ini sebagai pahlawan Bangsa.

Menjelang tengah malam kota Bandung pun telah kosong dan habis terbakar, jaringan listrik mati dan menyisakan kobaran besar dan puing-puing yang berserakan.

Akhir dari Pertempuran Bandung Lautan Api

Walaupun gerakan ofensif yang dilakukan Tentara Republik Indonesia dan segenap pejuang rakyat Bandung tidak berhasil mengusir sekutu untuk hengkang dari tanah priangan, namun hancurnya berbagai infrastruktur menghalangi tentara Inggis untuk mengambil alih kota Bandung dan menjadikannya basis militer di Jawa Barat.

Sejarah heroik dan semangat perjuangan melalui taktik membumihanguskan kota Bandung yang dilakukan oleh tentara dan para milisi rakyat sangat menginspirasi sehingga dikenang dan diperingati sebagai Peristiwa Bandung Lautan Api.


 

Tidak ada komentar: