Cari Blog Ini

Pertempuran Surabaya – Upaya Sengit Menghalau Kembalinya Kolonialisme Pascaproklamasi Kemerdekaan

Pertempuran ini menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia dan berdampak luas di kalangan internasional. Perihal ini bahkan dimasukkan ke dalam agenda Sidang Dewan Keamanan PBB pada tahun 1946.


Kedatangan pasukan Sekutu ANFEI untuk membantu memulangkan tentara Jepang ke negerinya hanyalah kamuflase belaka. Belanda bekerja sama dengan Inggris menyusupkan  pasukan NICA untuk menanamkan kembali kekuasaannya di tanah air Indonesia. Pertempuran sengit pun terjadi, ribuan pejuang meregang nyawa mempertahankan kedaulatan bangsa. Tak ada tempat lagi untuk para penjajah, pilihannya hanya “Merdeka atau Mati!”

Latar Belakang Pertempuran Surabaya – 10 November 1945

Berdasarkan perjanjian Kalijati, tanggal 8 Maret 1942, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Indonesia pun kemudian secara resmi berada di bawah kependudukan Jepang.

Kekalahan Jepang atas sekutu—tepatnya setelah peristiwa pengeboman Hiroshima dan Nagasaki—Jepang kehilangan semua negara jajahannya, termasuk Indonesia.  Dalam hal pengambilaihan kekuasaan dari tangan Jepang, sekutu membentuk komando khusus yang diberi nama Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI).

Selama masa kekosongan kekuasaan asing di Indonesia, Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Maklumat Pengibaran Bendera Merah Putih & Insiden Hotel Yamato

Setelah proklamasi kemerdekaan, pemerintah menetapkan bahwa per tanggal 1 September 1945 bendera merah putih harus dikibarkan di seluruh wilayah Indonesia.

Pada tanggal 18 september, sekelompok orang belanda yang berada di bawah pimpinan W.V.Ch. Ploegman, mengibarkan Bendera Belanda di puncak Hotel Yamato – Surabaya. Hal ini menimbulkan suasana panas di Surabaya. Pemerintah setempat berupaya menegur dan meminta Ploegman menurunkan bendera tersebut, namun perundingan tersebut ditolaknya.

Situasi semakin memanas, hingga akhirnya sekelompok pemuda memasuki hotel, memanjat tiang bendera dan merobek bagian biru dari bendera Belanda dan menyisakan warna merah dan putihnya saja.

Insiden Hotel Yamato ini menjadi perlawanan pertama terhadap upaya kolonialisme pascaproklamasi di Surabaya.

Pelucutan Senjata Pasukan Jepang & Kamuflase Belanda untuk kembali Memasuki Kawasan RI

Dalam upaya penguatan kedaulatan Republik Indonesia, Per tanggal 2 September1945, pemerintah melakukan gerakan pelucutan senjata terhadap pasukan perang Jepang yang masih ada di Indonesia.

Ketika proses berjalan, sekutu mengutus AFNEI dengan dalih membantu pemerintah Indonesia melepaskan para tawanan yang ditahan Jepang, melucuti senjata tentara Jepang, dan mengembalikan mereka ke negerinya.  

Awalnya Indonesia menerima kedatangan AFNEI dengan tangan terbuka, namun demikian Pemerintah menetapkan sejumlah kesepakatan dengan Brigadir Jendral A.W.S. Wallaby, selaku pimpinan pasukan tersebut.

Beberapa isi kesepakatannya adalah, pemerintah Indonesia tidak memperkenankan adanya angkatan perang Belanda dalam pasukan tersebut. selain itu mereka pun hanya diperbolehkan memasuki wilayah kota dan objek-objek tertentu.

Dalam kenyataannya, Inggris berlaku curang. Dengan liciknya AFNEI menyusupkan NICA (Netherland Indies Civil Administration) dalam pasukan yang tiba di Jakarta Pada Tanggal 15 September 1945, dengan misi mengembalikan Indonesia ke dalam administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda.

Konfrontasi Fisik Terberat Melawan Kolonialisme dalam Sejarah Revolusi Indonesia

Tanggal 25 Oktober 1945, Tentara AFNEI pun tiba di Surabaya. Dan seperti yang sudah dikhawatirkan pemerintah, pasukan sekutu ternyata mengingkari kesepakatan yang telah dibuat.

Bukan hanya menyusupkan NICA, pasukan AFNEI bahkan melakukan serangkaian penyerangan untuk membebaskan tawanan perang asal Belanda. Mereka juga menduduki pangkalan udara Monokrembangan, pelabuhan Tanjung Perak, serta beberapa objek vital lainnya. 

Tanggal 27 Oktober 1945, Pasukan Inggris menyebarkan pamflet-pamflet melalui udara yang berisi perintah agar rakyat Indonesia menyerahkan senjata-senjata rampasan Jepang dan menyerahkannya kepada ANFEI.

Hal ini tak pelak menyebabkan kemarahan pemerintah dan memunculkan gejolak perlawanan dari berbagai kekuatan yang ada Surabaya, mulai dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Laskar Rakyat Hizbullah, dan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), yang dipimpin oleh Bung Tomo.

Pada 28 Oktober 1945, rakyat Surabaya berhasil menguasai kembali pos-pos yang sempat dikuasai sekutu. Sekutu pun kewalahan dan meminta bantuan kepada Presiden Soekarno untuk melakukan gencatan Senjata.

Di tengah gencatan senjata, pada tanggal 30 Oktober 1945, terjadi kesalahpahaman yang menyebabkan baku tembak antara kelompok milisi Indonesia dengan pasukan Inggris dan menewaskan Brigadir Jendral A.W.S. Mallaby.

Pertempuran 10 November 

Tewasnya Brigadir Mallaby membuat pasukan Inggris nyaris hancur. Mereka pun meminta bantuan Devisi V, yaitu berupa pasukan dengan kekuatan 24.000 orang di bawah pimpinan Mayor Jendral Marsegh.

Tanggal 9 November 1945, Inggris mengeluarkan ultimatum agar semua orang di Surabaya yang memiliki senjata segera melapor dan menyatakan menyerah sambil mengangkat tangan di kepala. Jika tidak mereka akan menggempur kota Surabaya dari darat, laut dan udara.

Ultimatum ini sama sekali tidak digubris oleh rakyat Surabaya, akhirnya pada tanggal 10 November 1945 terjadi pertempuran dahsyat di kota tersebut.

Pasukan Inggris melancarkan serangan skala besar dengan mengerahkan 30.000 infanteri, dan memborbardir kota surabaya dari darat, laut, dan udara menggunakan kapal penjelajah Susex, pesawat Mosquito, Thunderbolt, dan beberapa kapal perusak lainnya.

Selama tiga minggu—10 November sampai dengan 28 November 1945—pasukan tentara dan milisi Indonesia melakukan perlawanan habis-habisan, hingga akhirnya Surabaya jatuh ke tangan Inggris.

Setidaknya ada sekitar 6.000-16.000 pejuang Indonesia yang tewas dalam pertempuran tersebut. Adapun jumlah korban tewas dari pihak sekutu adalah sekitar 600-2.000 orang.

Pertempuran ini menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia dan berdampak luas di kalangan internasional. Perihal ini bahkan dimasukkan ke dalam agenda Sidang Dewan Keamanan PBB pada tahun 1946.

Kebulatan tekad dan keberanian rakyat dalam melawan tentara sekutu pada pertempuran Surabaya, menjadi simbol perjuangan mempertahankan kedaulatan Bangsa. Itu sebabnya tanggal 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.


Tidak ada komentar: