Cari Blog Ini

“Konspirasi Sunyi(?)” Pansus DPRD Bekasi terkait Pipa Gas PGN di Tarumajaya dan Babelan (1)

Adanya aspirasi rakyat Bekasi, khususnya di Tarumajaya dan Babelan, yang menolak penanaman pipa di jalur jalan pemukiman warga, direspons DPRD Bekasi untuk diadakan Pansus. Meski Pansus DPRD Bekasi terkait Pipa Gas PGN di Tarumajaya dan Babelan sudah digelar, realitasnya adalah PT PGN melakukan taktik dan grilya politik menggolkan/menyukseskan proyek penggelaran pipa gas. Strategi itu, mulai dari “money bombing’ hingga memecahbelah persatuan warga yang menolak dengan pendekatan “pengkotak-kotakan” wilayah. Hasil akhir Pansus pun bagai ditelan bumi. Tiba-tiba hilang begitu saja tanpa ada dokumen rekomendasi untuk disampaikan kepada warga Tarumajaya dan Babelan, sebagai pengusul. Aksi Solidaritas Warga Tarumajaya dan Babelan Menolak penanaman pipa gas bertekanan tinggi berdekatan dengan pemukiman warga pada 21 April 2016 lalu di depan gedung DPRD kabupaten Bekasi adalah salah satu bentuk upaya melawan lupa bagi DPRD Bekasi. Akhirnya Taih Minarno, yang juga pejabat yang terlibat dalam pansus tersebut,  pun menerima warga. Ketika ditanya warga terkait hasil pansus, ia pun menjawab dengan “plintat-plintut”.

Dan dia berjanji akan menemui warga Tarumajaya Babelan terkait penanaman pipa gas PT PGN. Alih-Alih datang temui warga, dia justru ke kantor kecamatan Tarumajaya dan melihat fasilitas umum di desa Samuderajaya Tarumajaya.

Perkembangan terkini, PT PGN  tetap ngotot melakukan penggelaran pipa gas bertekanan tinggi yang berdekatan dengan pemukiman warga.. Hal itu, dapat dilihat dengan masih bekerjanya subcontractor PT Tegma Engineering dalam penggelaran pipa gas di kecamatan Tarumajaya dan Babelan.

Loby politik agar proyek penggelaran pipa gas di Tarumajaya dan Babelan yang berjalan lancar, mempertontonkan praktik politik tuna rasa kelompok elit penerima aspirasi, yang kerap mengemas libido politiknya melalui aksi ala Roobin Hood. Mereka seolah-olah bertekad membantu rakyat, namun dalam realitasnya teramat mahir mengolah rakyat sebagai komoditas dan berujung, baik untuk pencitraan maupun “memperkaya diri”.


Mengapa tertelan bumi? 


Yang menarik diamati adalah proses politik mengapa usulan penolakan pipa gas bertekanan tinggi di jalur pemukiman yang diusung warga Tarumajaya dan Babelan, hilang bagai tertelan bumi. Dalam pembacaan komunikasi politik, paling tidak kita bisa melihat jejak rekam proses politik ini melalui tiga kemungkinan yang bisa saja saling melengkapi.

Pertama, tak rela citra kepiawaian politik para elit anggota DPRD Bekasi tercederai, mereka membela warga, namun dalam praktiknya mereka melakukan strategi koorporatisme politik, politik akomodatif, dan langkah taktis-pragmatis yang berorientasi pada kemenangan ekonomi-politik.
Kedua, fenomena usulan penolakan pipa gas bertekanan tinggi di jalur pemukiman yang diusung warga Tarumajaya dan Babelan ini menunjukkan prilaku simulasi realitas oleh para elit DPRD Bekasi.

Menurut Jean Baudrillard dalam tulisannya the Precission of Simulacra, simulasi realitas ini dipahami sebagai tindakan yang memiliki tujuan membentuk persepsi yang cenderung palsu, seolah-olah mewakili kenyataan. Ruang pemaknaan dimana tanda-tanda yang saling terkait dianggap tak harus memiliki tautan logis. Istilah membela rakyat/warga adalah simulasi realitas untuk membentuk persepsi seolah-olah para elit berjuang untuk menyejahterakan rakyat, padahal berprilaku sebaliknya yakni menggunakan filosofi tikus, menggigit atau bahkan menggrogoti uang rakyat tanpa terasa.

Konsekuensi dari simulasi realitas ini biasanya berbentuk reality by proxy. Banyak pihak tidak lagi memiliki kemampuan dalam menyadari apakah usulan penolakan pipa gas bertekanan tinggi di jalur pemukiman yang diusung warga Tarumajaya dan Babelan itu realitas atau fantasi.

(bersambung)

》》》

Tidak ada komentar: